Oleh: Budi Prasetyo
Pernahkah kalian merasa hidup seperti kaset pita yang terus diputar ulang, tapi setiap lagunya punya genre yang berbeda-beda? Itulah hidup saya.
Kenalkan, nama saya Budi Prasetyo.
Darah saya asli Jawa Timur—kombinasi paten antara Kediri (Papa) dan Tulungagung (Mama)—tapi saya “dirakit” dan lahir di Bandung. Saya seorang Taurus yang keras kepala tapi cinta damai, introvert yang terpaksa supel, dan yang paling penting: saya adalah seorang Nomaden.
Karena tugas orang tua, saya tumbuh besar di jalanan antar-kota dan antar-pulau. Dari dinginnya Bandung, panasnya Surabaya, petualangan di Manado, hingga masa remaja yang gila di Bali.
Tulisan ini adalah Peta Perjalanan Hidup saya. Sebuah rangkuman dari bab-bab kehidupan yang membentuk siapa Budi Prasetyo hari ini. Silakan klik tautan di setiap bab untuk membaca cerita lengkapnya yang lebih seru, lucu, dan kadang memalukan.
BAB 1: Bandung – Jendral Kancil, Batok Kelapa, dan Nasi Bungkus
(Masa TK – Kelas 2 SD)
Cerita dimulai di Kota Kembang. Di sinilah saya memulai karier (yang singkat) sebagai penari profesional di TK Priangan. Bersama tim elite saya—Olan, Bulan, dan Chika—kami mengguncang panggung sekolah dengan Tari Tempurung.
Bandung adalah masa yang penuh warna. Saya menjadi “Jendral Kancil” berambut gondrong, merasakan dinginnya udara pagi Lembang, nongkrong di Warung Encim yang serba ada, hingga drama kehilangan ongkos angkot yang membuat saya menangis sesenggukan di depan bapak-bapak asing.
Ada juga momen hangat keluarga saat kami bergotong-royong membangun rumah sendiri di Buah Batu. Tugas saya waktu itu cukup berat: jadi Kurir Nasi Bungkus spesial buatan Mama untuk para tukang.
👉 [KLIK DI SINI UNTUK BACA CERITA LENGKAP: Drama Angkot, Tari Tempurung, & Kurir Nasi Bungkus]
BAB 2: Surabaya – Kipas Angin dan Tinju Maut
(Kelas 3 SD – 1 SMP)
Koper dikemas, kami pindah ke Surabaya. Kesan pertama: PANAS!
Kipas angin langsung jadi sahabat sejati saya di rumah baru di Taman Wisma Menanggal.
Di Surabaya, Budi kecil yang polos berubah menjadi lebih tangguh. Saya harus beradaptasi dengan bahasa Suroboyoan yang blak-blakan. Momen paling epik di era ini adalah kejadian di Pasar Pucang. Demi menyelamatkan adik saya dan membeli buku pelajaran, saya nekat melayangkan satu pukulan maut ke perut preman cilik yang menghadang kami.
Di sini juga saya mulai hobi membongkar (baca: merusak) mainan elektronik dan bertemu teman sekelas paling tengil di SMPN 6 Surabaya: Dhani.
👉 [KLIK DI SINI UNTUK BACA CERITA LENGKAP: Preman Pasar Pucang & Adaptasi Surabaya]
BAB 3: Manado – Petualangan Alam dan Musik Jazz
(Kelas 2 – 3 SMP)
Belum puas di Jawa, takdir melempar saya ke Sulawesi Utara. Selamat datang di Manado!
Masuk di SMPN 1 Manado, hidup saya berubah jadi film petualangan. Bersama dua sahabat terbaik, Agus (si kalem) dan Ali (si heboh), kami menjelajah alam hingga mendaki Gunung Klabat. Rasanya seperti film 5 cm versi bocah SMP.
Di era ini, selera musik saya berevolusi. Dari lagu anak-anak, beralih ke Jazz Funk ala Spandau Ballet dan Al Jarreau. Manado mengajarkan saya arti persahabatan tanpa sekat dan indahnya alam Indonesia.
👉 [KLIK DI SINI UNTUK BACA CERITA LENGKAP: Pendakian Gunung Klabat & Persahabatan Manado]
BAB 4: Bali – Angkot Kreneng, Rumah Transit, dan Geng F2
(Masa SMA)
Dan sampailah kita di masa kejayaan: SMA Negeri 1 Denpasar (Smansa).
Awal masuk SMA diisi dengan keajaiban takdir. Di dalam angkot jurusan Kreneng, saya bertemu Arman, teman senasib yang rumahnya jadi “Rumah Transit” saya. Di papan pengumuman, nama kami yang berawalan A dan B nangkring paling atas, memudahkan kami menemukan takdir bahwa kami ternyata sekelas di Kelas 1-4 (SAMPAT).
Di Pulau Dewata inilah masa remaja saya benar-benar “pecah”. Saya menemukan keluarga baru bernama Geng F2. Bersama Nucky (sahabat dengan kisah hidup plot twist), Bram, Teddy si Einstein, dan kawan-kawan lain, kami melewati masa SMA yang penuh warna.
👉 [KLIK DI SINI UNTUK BACA CERITA LENGKAP: Kenakalan Geng F2 & Masa SMA di Bali]
BAB 5: Kembali ke Bandung & Masa Depan
(Kuliah & Karier)
Putaran nasib membawa saya kembali ke titik awal: Bandung. Saya melanjutkan kuliah di STT Telkom.
Di antara ribuan mahasiswa baru, takdir mempertemukan saya dengan seseorang yang spesial. Uniknya, pertemuan kami bukan di kampus atau kantin, melainkan di dalam pesawat terbang. Dialah wanita hebat yang menjadi booster semangat saya lulus kuliah, dan kini menjadi ibu dari tiga pangeran ganteng kami.
Setelah lulus, jiwa nomaden saya ternyata belum pensiun. Saya bekerja di PT Telkom dan kembali berpindah-pindah kota: Malang, Surabaya, Palembang, Medan, Batam, Pekanbaru, hingga akhirnya mendarat di Jakarta/Tangerang.
👉 [KLIK DI SINI UNTUK BACA CERITA LENGKAP: Kisah Cinta di Pesawat & Perjalanan Karier]
Itulah garis besar peta hidup saya. Dari seorang penari tempurung kecil, petinju pasar dadakan, hingga menjadi ayah tiga anak.
Terima kasih sudah mampir di blog ini. Semoga kepingan-kepingan cerita di atas bisa menghibur atau setidaknya menemani waktu santai Anda. Jangan lupa klik tautan di atas untuk menyelami setiap kisahnya lebih dalam!
Salam hangat,
Budi Prasetyo