BANDUNG: Rumah Baru dan Misi Kurir Nasi Bungkus

(Jejak Si Nomaden – Episode Bandung)

Oleh: Budi Prasetyo

Masih ingat kan masa kecilku di Bandung? Si penari tempurung dan petualang angkot yang pernah nangis gara-gara ongkos nyelip?

Nah, di episode kali ini, aku mau cerita satu momen yang lumayan membekas. Momen di mana keluarga kecil kami—yang waktu itu masih ngontrak di dekat sekolah—akhirnya berjuang mewujudkan mimpi punya istana sendiri.

Kami bukan keluarga kaya raya, tapi juga nggak kekurangan. Pas lah, cukup. Makanya, punya rumah sendiri itu bukan simsalabim langsung jadi. Rumah kami di daerah Buah Batu itu dibangun bertahap, penuh keringat, dan tentu saja… penuh drama nasi bungkus.

Mandor Papa dan Logistik Mama

Waktu itu, rumah kami sudah mulai berbentuk. Tembok sudah berdiri, atap sudah terpasang, tinggal penyelesaian detail seperti lantai, jendela, dan pintu.

Biar irit biaya dan waktu, kami sekeluarga turun tangan. Papa—dengan gaya cool-nya—berperan ganda: siang kerja di kantor, sore atau akhir pekan jadi Mandor Proyek. Dia yang sibuk mengawasi tukang, ngecek semen, dan memastikan temboknya lurus (maklum, orang teknik harus presisi!).

Mama? Beliau adalah Manajer Logistik. Tugas utamanya memastikan “mesin penggerak” proyek—alias perut para tukang—tetap terisi penuh.

Lalu, apa tugas kami anak-anak kecil ini?

Adik bungsuku, Nuri, waktu itu masih bayi. Kerjanya cuma dua: nangis dan tidur. Sangat tidak produktif untuk proyek bangunan, tapi sangat produktif untuk menguji kesabaran.

Sedangkan aku dan Agung? Kami sadar diri. Ngangkat satu batu bata aja kami udah ngos-ngosan, apalagi angkat sak semen. Tenaga kami nggak ada harganya di mata konstruksi. Untungnya, kami dikaruniai wajah ganteng (menurut Mama), jadi kami dapat jabatan strategis: Asisten Logistik & Penjaga Bayi.

Tugas kami menjaga Nuri saat Mama sibuk masak, dan menjadi kurir pengantar makanan ke lokasi proyek.

Ritual Nasi Bungkus

Setiap hari menjelang makan siang, dapur kontrakan kami berubah jadi dapur umum. Mama dibantu asisten rumah tangga sibuk meracik “bahan bakar” untuk 7 orang tukang.

Target produksi: 12 bungkus nasi. (Kenapa 12? Karena Papa, aku, Agung, dan asisten juga harus makan dong!).

Prosesnya seru banget kalau diingat-ingat.
Pertama, kertas bungkus cokelat digelar berjejer. Lalu, nasi putih yang baru matang ditaruh di atasnya. Kepulan asapnya masih mengepul, wanginya harum banget.

Setelah nasi tertata rapi kayak gunung-gunung kecil, barulah lauk pauk masuk antrean:

  1. Mie Goreng (wajib ada!).
  2. Oreg Tempe (manis gurih).
  3. Tumis Buncis & Wortel (biar sehat).
  4. Dan bintang utamanya… sepotong Ayam Goreng Kecap!
  5. Tak lupa, sesendok Sambal Goreng Matang dan taburan Bawang Goreng di atasnya.

Heemmm… Walaupun sederhana, isian nasi bungkus itu selalu sukses bikin perutku keroncongan sebelum waktunya.

Karena ini buat tukang yang kerjanya angkat-angkat berat, porsinya nggak main-main. Porsi kuli! Nasinya padat dan banyak, beda sama porsi kami anak-anak TK/SD yang masih imut ini.

Setelah nasi dibungkus rapi pake karet gelang, Mama juga nyiapin kantong plastik berisi Teh Manis atau Air Putih. Lengkap sudah.

Misi Pengantaran

Begitu semua siap, dimulailah prosesi arak-arakan.

Kami semua berangkat ke lokasi rumah baru. Mama gendong Nuri (atau dorong kereta bayi), asisten bawa keranjang logistik, dan aku sama Agung jalan di sampingnya dengan gaya sok sibuk bawa bungkusan-bungkusan kecil.

Sesampainya di lokasi, melihat para tukang lahap memakan nasi bungkus buatan Mama, rasanya ada kepuasan tersendiri. Mungkin aku nggak bisa bantu pasang batako, tapi setidaknya aku bantu memastikan Pak Tukang punya tenaga buat masang batako itu.

Siang itu, di tengah bau semen basah dan debu pasir, kami makan bersama. Rumah itu belum jadi, lantainya masih kasar, tapi rasanya sudah hangat. Mungkin karena di setiap adukan semennya, ada doa Papa. Dan di setiap butir nasi bungkusnya, ada cinta Mama.

Itulah kenangan manis di balik rumah Buah Batu. Rumah yang dibangun bukan cuma pakai batu bata, tapi pakai gotong royong satu keluarga.

“Tulisan ini adalah bagian dari seri memoar perjalanan hidup saya. Untuk melihat urutan lengkap perjalanan saya dari kota ke kota lainnya, silakan baca artikel utama: Jejak Si Nomaden: Peta Perjalanan Hidup Budi Prasetyo.”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *