BANDUNG: Batok Kelapa, Warung Encim, dan Drama Ongkos Nyelip

(Jejak Si Nomaden – Episode 1)

Oleh: Budi Prasetyo

Kalau hidupku adalah sebuah kaset pita, maka Side A – Track 1 dimulai di kota kembang, Bandung.

Ini adalah era di mana Budi Prasetyo belum mengenal preman Pasar Pucang, belum tahu cara mendaki gunung di Manado, apalagi nongkrong bareng Geng F2 di Bali. Ini adalah versi Budi yang paling orisinal: polos, pemalu, penari, dan… petualang cilik mandiri.

Si Jendral Kancil Gondrong

Sebelum masuk ke cerita tari-tarian, kita harus bahas dulu visualku waktu itu. Biar kalian bisa membayangkan dengan jelas.

Waktu TK, gayaku itu… wah, jangan ditanya. Rambutku dibiarkan gondrong. Bukan gondrong berantakan, tapi gondrong stylish ala Adi Bing Slamet di film legendaris Perang Jendral Kancil.

Bayangkan saja: anak kecil, rambut gondrong poni lempar, pakai seragam TK yang celananya pendek itu. Kalau kata Mamaku sih, waktu itu aku ganteng banget. Ya namanya juga anak sendiri, pasti dibilang ganteng, kan?

Tapi kalau aku bayangkan sekarang, pasti lucu banget. Si gondrong cilik bergaya Jendral Kancil, jalan dengan percaya diri (padahal aslinya pemalu). Andai saja waktu itu sudah ada HP kamera, pasti fotonya bakal jadi “harta karun” yang seru buat diketawain bareng anak-anakku sekarang. Sang perupa Jendral Kancil versi Bandung!

Petualangan Angkot Si Bocah Mandiri

Walaupun masih TK dan SD awal (sekecil itu!), aku sudah punya satu skill yang bikin bangga: Pulang Sekolah Sendiri.

Bayangkan rutenya: Rumahku di daerah Buah Batu (nama sekarang), sedangkan sekolahku di daerah WR Supratman (nama sekarang). Jaraknya lumayan, lho! Kalau berangkat sih enak, nebeng Papa yang kantornya searah. Tapi kalau pulang? Aku berani naik angkot sendirian tanpa merepotkan orang tua. Keren, kan?

Tapi, ada satu kejadian lucu (sekaligus dramatis) yang nggak akan aku lupa.

Waktu itu, Mama sudah membekaliku uang saku total 125 Rupiah. Rinciannya: 100 Rupiah buat ongkos angkot, 25 Rupiah buat jajan. Uang itu berupa koin-koin receh yang ditaruh Mama di dalam tas sekolahku. Aku tahu uang itu ada di sana, tapi dasar anak kecil, aku nggak mengecek ulang posisinya.

Pulang sekolah, dengan gaya cool ala Jendral Kancil, aku naik angkot. Di tengah jalan, kenek mulai beraksi: “Ongkosnya, Dek!”

Aku pun merogoh tas.
Kari-kiri. Atas-bawah.
Lho… kok nggak ada?

Aku mulai panik. Periksa lagi. Tetap nihil.
Keringat dingin mulai keluar. Bayangan mengerikan muncul di kepala: “Duh, bakal diturunin di tengah jalan nih sama kenek galak… Mana masih jauh dari rumah… Nanti kalau aku ilang gimana? Keselip terus nggak ketemu orang tua gimana?”

Stres melanda. Si Jendral Kancil yang tadinya gagah, mendadak mellow. Mataku mulai berair. Aku nggak nangis histeris teriak-teriak ya (gengsi dong), tapi air mata menetes deras sambil sesenggukan. Muka cengeng dan putus asaku ternyata menarik perhatian seorang Bapak-bapak yang duduk di sebelahku.

“Kenapa, Dik? Kok nangis?” tanyanya lembut.

Sambil terisak-isak, aku jawab jujur, “Uang saya hilang, Pak… entah jatuh di mana saya nggak tahu…”

“Oh hilang ya? Nggak dipake jajan tadi di kantin?” Bapak itu mencoba menyelidik, takutnya aku bohong.

“Enggak, Pak… malah saya tadi di sekolah juga nggak jajan kok…” jawabku makin sedih, air mata makin deras kayak keran bocor.

Bapak itu tersenyum iba. “Oh gitu. Ya udah, ini Bapak kasih ongkos nih. Jangan nangis lagi ya… Nih 100 Rupiah.”

Beliau menyodorkan koin logam 100 Rupiah ke tanganku.

Ya Allah… Rasanya kayak dikasih nyawa tambahan! Dalam hati aku bersyukur banget. “Terima kasih, Pak… untuk ada Bapak yang baik,” ucapku sambil mengusap air mata ingus.

Dengan bangga dan bahagia, aku bayarkan uang itu ke kenek. “Ini Pak ongkosnya, kembali 50 ya, Pak…”

Kenapa minta kembalian? Karena sisa 50 Rupiah itu adalah modal buat naik ojek becak dari jalan raya masuk ke dalam kampung rumahku. Jaraknya masih hampir 1 kilometer, Bro! Kasihan kaki kecil nan ganteng ini kalau harus jalan kaki.

Sesampainya di rumah, aku lapor ke Mama soal tragedi itu. Kami periksa tas bareng-bareng. Dan tebak apa?

Uangnya ada!
Ternyata koin-koin itu menyelip di lipatan tas yang dalam. Posisi yang mustahil ditemukan oleh anak kecil yang lagi panik dikejar tagihan kenek.

Hari itu aku belajar tiga hal penting yang aku bawa sampai tua:

  1. Cek dan Ricek: Selalu pastikan bekal (uang/barang) aman sebelum berangkat.
  2. Orang Baik Itu Ada: Jangan takut, di mana pun kita berada, Tuhan selalu kirim orang baik buat bantu.
  3. Rezeki Tak Disangka-sangka: Bantuan Bapak di angkot itu adalah bukti nyata bahwa rezeki Allah bisa datang dari arah mana saja, bahkan di angkot yang pengap.

Priangan dan Pasukan Tempurung

Selain jadi petualang angkot, di TK Priangan inilah karier kesenianku dimulai (dan berakhir).

Aku punya geng kecil. Bukan geng motor, tapi geng penari Tari Tempurung. Anggotanya empat orang: Aku, Olan, Bulan, dan Chika.

Formasinya selalu sama: Aku berpasangan dengan Bulan, dan Olan berpasangan dengan Chika. Kami pegang batok kelapa, tepuk sana-sini, “Prookk… prookk…” Tarian ini laku keras di setiap acara sekolah.

Sayangnya, Olan hilang jejak. Tapi Bulan dan Chika? Semesta mempertemukan kami lagi saat aku kuliah di Bandung! Bulan masih setia dengan rambut pendeknya (tambah cantik!), dan Chika masih sama persis dengan rambut kruwil-kruwil (keriting kecil) yang ikonik itu. Melihat mereka, rasanya waktu diputar balik.

Surga Dunia Bernama “Warung Encim”

Satu lagi tempat keramat di sebelah sekolah: Warung Encim.

Ini department store bintang lima versi bocah. Isinya Palugada (Apa Lu Mau Gue Ada). Mulai dari jajanan pasar, permen karet, gambaran, tentara-tentaraan plastik, sampai layangan dan benang gelasannya.

Di sanalah kami menghamburkan sisa uang saku (kalau nggak hilang di angkot) demi sekadar beli gambaran buat main tepuk. Kenangan jajan di sana rasanya lebih manis daripada permennya sendiri.

Akhir Sebuah Era

Masa Bandungku berakhir saat aku naik ke kelas 3 SD. Ayah dipindahtugaskan ke Surabaya.

Rasanya berat meninggalkan Bandung yang sejuk, Tari Tempurung yang legendaris, Warung Encim yang serba ada, dan tentu saja… rute angkot Buah Batu yang penuh drama.

Selamat tinggal, udara dingin.
Selamat tinggal, masa rambut gondrong ala Jendral Kancil.
Selamat datang, Surabaya yang (katanya) panas mendidih.

Si penari tempurung ini harus gantung batok kelapa, dan bersiap menghadapi tantangan baru: Kipas Angin dan Preman Pasar Pucang.

(Bersambung ke Episode Surabaya)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *