Semakin lama, saya mulai mengerti satu hal: perubahan itu tidak pernah benar-benar pergi.
Waktu berjalan, usia bertambah, dan tanpa disadari hidup pelan-pelan bergeser ke arah yang berbeda dari rencana awal.
Tapi apakah makna perubahan itu sudah sepenuhnya terpahami?
Ndak juga.
Justru semakin dipikirkan, semakin banyak arti yang muncul. Semakin diolah di kepala, maknanya malah bercabang ke mana-mana. Bukannya makin jelas, yang ada sering kali justru tambah bingung.
Mungkin itu sebabnya sekarang semakin banyak buku dan tulisan yang membahas perubahan hidup. Dari yang tipis sampai yang tebal, dari kemasan sederhana sampai yang eksklusif. Isinya bermacam-macam, caranya berbeda-beda, tapi semuanya mencoba menjelaskan satu hal yang sama: sesuatu yang pada dasarnya tidak pernah bisa diam.
Namun dari semua itu, ada beberapa hal yang menurut saya penting.
Pertama, perubahan tidak bisa ditolak.
Mau siap atau tidak, perubahan tetap datang. Diam pun sebenarnya sudah termasuk berubah—hanya saja tanpa arah yang jelas.
Kedua, karena perubahan tidak bisa dihindari, maka satu-satunya pilihan adalah ikut bergerak di dalamnya. Seperti kata banyak orang bijak: take action. Melangkah meski ragu, bergerak meski belum sepenuhnya paham.
Menariknya, Al-Qur’an menyampaikan hal yang sejalan dengan itu. Dalam salah satu ayat disebutkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Mungkin di situlah kuncinya. Perubahan memang pasti datang, tapi arah perubahan itu tetap bergantung pada apa yang kita lakukan—atau justru kita tunda. Tidak selalu harus tahu segalanya lebih dulu. Kadang, pemahaman baru datang setelah kita berani melangkah.
Karena pada akhirnya, perubahan bukan soal siap atau tidak siap.
Ia soal mau bergerak, atau memilih diam dan tetap ikut berubah tanpa sadar.