(Jejak Si Nomaden – Episode 4)
Oleh: Budi Prasetyo
Setelah petualangan mendaki gunung di Manado berakhir, koper si nomaden ini kembali digeser. Kali ini, takdir melempar saya ke sebuah pulau yang jadi impian turis seluruh dunia: Bali.
Seperti biasa, alasan kepindahan ini klasik: Tugas Negara. Papa mendapatkan penugasan baru di Denpasar, dan otomatis, saya beserta adik-adik (Agung dan Nuri) pun harus ikut pindah kota dan pindah sekolah.
Selamat tinggal seragam putih-biru SMP Manado, selamat datang masa Putih Abu-Abu di Bali!
Jalan Rembulan dan Rute Angkot Legendaris
Kami mendarat di sebuah rumah kontrakan di Jalan Rembulan. Lokasinya strategis, masuk dari jalan besar Jalan Teuku Umar. Kalau ditelusuri sampai ujung, Jalan Teuku Umar ini nyambung ke Jalan Imam Bonjol.
Buat saya yang baru jadi anak SMA, menghafal rute ini penting banget. Kenapa? Karena ini jalur hidup dan mati saya menuju sekolah baru: SMA Negeri 1 Denpasar (Smansa).
Setiap pagi, ritual saya dimulai dengan menyetop angkutan umum (bemo) dari Teuku Umar. Angkot ini rutenya asik: dari Teuku Umar, lanjut menyusuri Imam Bonjol, muter-muter jalanan Denpasar, sampai akhirnya berhenti di Terminal Kreneng.
Terminal Kreneng ini terminal legendaris, pusatnya angkot Denpasar, dan untungnya… jaraknya cuma sepelemparan batu dari Smansa. Jadi, saya tinggal turun di terminal, jalan kaki sedikit, sampai deh di sekolah.
Pertemuan Tak Sengaja dan Rumah Transit
Hari-hari pertama sekolah adalah hari yang paling mendebarkan. Jantung rasanya kayak lagi konser rock. Sendirian di kota baru, sekolah baru, seragam baru.
Pagi itu, di dalam angkot yang melaju dari Teuku Umar ke Imam Bonjol, saya duduk dengan wajah tegang khas anak baru.
Tiba-tiba, angkot berhenti di daerah Imam Bonjol. Naiklah seorang anak laki-laki berseragam SMA yang sama dengan saya. Wajahnya juga sama tegangnya.
Kami saling lirik. Tatapan kami seolah bicara: “Lo anak baru Smansa juga ya? Sama dong, gue juga.”
Kami pun kenalan. Namanya Arman.
Ternyata benar! Arman juga pendatang baru di Denpasar. Dia baru saja pindah mengikuti orang tuanya, persis seperti nasib saya. Rumahnya ada di pinggir Jalan Imam Bonjol itu.
Meskipun jarak rumah kami di Jalan Rembulan dan rumahnya di Imam Bonjol itu nanggung, tapi karena satu rute angkot, kami jadi travelmate.
Sejak saat itu, Arman resmi jadi teman akrab pertama saya di Denpasar. Rumahnya di Imam Bonjol bahkan sering jadi “Rumah Transit” saya.
Tapi ingat, status “transit” ini cuma berlaku saat berangkat sekolah ya. Soalnya kalau rute pulang, angkotnya lewat jalan lain (maklum, rute angkot Denpasar itu misterius). Jadi momen mampir-mampir ini eksklusif pagi hari sebelum ke sekolah.
Keuntungan Nama Berawalan A dan B
Sesampainya di gerbang Smansa dekat Terminal Kreneng, kami turun bareng. Suasananya chaos. Ratusan siswa baru berkerumun. Misi pertama kami: Cari Kelas.
Kami berdesak-desakan di depan papan pengumuman. Awalnya saya pikir bakal susah nyari nama di antara ratusan siswa. Tapi ternyata… gampang banget!
Kenapa? Karena ini Bali, Bro!
Mayoritas teman-teman baru kami memiliki nama khas Bali yang diawali huruf “I” (I Made, I Gede, I Ketut) atau “G” (Gusti, Gede). Jadi, daftar absen itu penuh sesak di bagian tengah ke bawah.
Sedangkan kami?
Arman (A).
Budi (B).
Nama kami nangkring manis di urutan paling atas daftar! Nggak perlu jinjit-jinjit, nggak perlu nyelip. Rezeki anak pendatang, nyari nama di absen pun dimudahkan.
Dan tebak apa? Di sebelah nama kami tertulis jelas: Kelas 1-4.
JEDER!
Wah, itu rasanya kayak menang lotre!
Bayangkan: Sama-sama anak baru, ketemu nggak sengaja di angkot, nama sama-sama di pucuk absen, dan sekarang… sekelas pula!
Kami pun berjalan menuju ruang kelas 1-4 dengan langkah ringan. Kelas itu kelak dikenal oleh penghuninya dengan sebutan SAMPAT (Satu Empat).
Pelajaran Iman dari Sebuah Kebetulan
Apakah semua rentetan kejadian ini cuma kebetulan?
Tentu saja tidak. Saya yakin ini pasti pengaturan dan Rahmat dari Allah.
Mungkin Tuhan tahu kami berdua masih buta peta Denpasar, masih bingung adaptasi, jadi Dia menyatukan kami biar kami nggak nyasar sendirian.
Dari kejadian sederhana di angkot dan papan pengumuman ini, saya belajar satu hal yang mendalam:
Lanjutkan langkah baikmu dengan berani dan yakin.
Jangan takut tersesat di tempat baru, karena Tuhan akan selalu menuntun arah perjalanan hamba-Nya. Tugas kita cuma dua: Pasrah dan Ikhtiar. Berusaha cari jalan (ikhtiar), lalu yakin kalau Tuhan yang atur sisanya (pasrah).
Terima kasih, Man. Pertemuan kita di angkot Imam Bonjol itu singkat, tapi sangat berarti buat si anak baru yang sedang belajar percaya pada rencana Tuhan.
(Bersambung ke kisah Geng F2 dan keajaiban Kelas Sampat)